Sunday, December 28, 2025

Ringworm pada Kucing: Bukan Cacing, tapi Jamur yang Perlu Diwaspadai

 Banyak pemilik kucing langsung panik saat mendengar kata ringworm. Namanya memang terdengar seperti cacing, padahal ringworm sama sekali tidak ada hubungannya dengan cacing. Ringworm adalah infeksi jamur pada kulit yang cukup sering terjadi pada kucing, terutama kucing outdoor atau kucing dengan daya tahan tubuh yang sedang menurun.

Ringworm biasanya muncul dalam bentuk area bulu rontok berbentuk lingkaran. Kulit di bagian tersebut bisa tampak kering, bersisik, atau sedikit kemerahan. Menariknya, tidak semua kucing merasa gatal. Inilah sebabnya ringworm sering terlambat disadari karena terlihat seperti rontok biasa.

Pada kucing tertentu, ringworm bisa menyebar perlahan ke bagian tubuh lain. Wajah, telinga, kaki, dan ekor adalah area yang cukup sering terdampak. Karena jamurnya menempel di kulit dan bulu, ringworm termasuk kondisi yang cukup mudah menular, baik ke kucing lain maupun ke manusia.

Banyak kasus ringworm terjadi tanpa disadari. Kucing tetap makan normal, aktif, dan terlihat baik-baik saja. Tiba-tiba muncul satu bercak botak kecil, lalu bertambah ukurannya. Di titik ini, barulah pemilik mulai curiga.

Yang perlu dipahami, ringworm bukan tanda kucing kotor atau tidak terawat. Jamur bisa menyerang kucing yang bersih sekalipun, terutama jika sistem imunnya sedang tidak optimal atau lingkungan sekitar lembap.

Penanganan ringworm biasanya membutuhkan kesabaran. Pengobatan tidak selalu instan karena jamur perlu waktu untuk benar-benar hilang. Selain mengobati kucing, kebersihan lingkungan juga berperan besar agar ringworm tidak muncul kembali.

Dalam pengalaman banyak pemilik kucing, konsistensi adalah kunci. Pengobatan rutin sesuai anjuran dan menjaga kebersihan area sekitar kucing akan sangat membantu proses pemulihan.

Intinya, ringworm memang perlu perhatian, tapi bukan kondisi yang perlu ditakuti berlebihan. Dengan penanganan yang tepat dan ketelatenan, ringworm bisa dikendalikan dan kucing bisa kembali nyaman.

Pinjal pada Kucing: Kecil, Lincah, dan Sangat Mengganggu

 Pinjal adalah salah satu masalah paling umum pada kucing, terutama kucing yang sering beraktivitas di luar rumah. Ukurannya kecil, warnanya cokelat kehitaman, dan gerakannya sangat cepat. Banyak pemilik kucing merasa kesulitan memastikan keberadaannya karena pinjal bisa melompat dan “menghilang” dalam hitungan detik.

Yang sering bikin kaget, jumlah pinjal di tubuh kucing bisa jauh lebih banyak dari yang terlihat. Apa yang tampak hanya satu atau dua ekor, bisa jadi hanya sebagian kecil dari masalah sebenarnya.

Pinjal hidup dengan mengisap darah. Gigitan inilah yang menyebabkan rasa gatal hebat pada kucing. Kucing yang terkena pinjal biasanya sering menggaruk, menggigit tubuhnya sendiri, atau menjilati area tertentu secara berlebihan, terutama di bagian leher, punggung, dan pangkal ekor.

Pada beberapa kucing, reaksi terhadap gigitan pinjal bisa lebih sensitif. Kulit menjadi kemerahan, muncul luka kecil, bahkan bulu rontok di area tertentu. Jika berlangsung lama, kondisi ini bisa membuat kucing terlihat tidak nyaman dan mudah stres.

Pinjal juga dikenal sebagai parasit yang cepat menyebar. Tidak hanya hidup di tubuh kucing, telur dan larvanya bisa jatuh ke lingkungan sekitar seperti tanah, kandang, karpet, atau tempat tidur kucing. Inilah sebabnya pinjal sering muncul kembali meski kucing sudah terlihat bersih.

Pada kasus tertentu, terutama pada anak kucing atau kucing dengan kondisi tubuh lemah, pinjal bisa berdampak lebih serius. Kehilangan darah secara terus-menerus dapat membuat tubuh kucing terasa lebih lemas dari biasanya. Meski jarang disadari, ini menjadi salah satu alasan kenapa pinjal sebaiknya tidak dianggap sepele.

Banyak orang menyebut pinjal sebagai “kutu kucing”. Istilah ini memang umum dipakai karena pinjal adalah jenis parasit yang paling sering ditemukan dan paling mengganggu. Namun, penting untuk diingat bahwa tidak semua masalah kulit kucing disebabkan oleh pinjal.

Dari pengalaman banyak pemilik kucing, tantangan terbesar dalam menangani pinjal bukan hanya membunuh yang ada di tubuh kucing, tetapi juga memutus siklus hidupnya di lingkungan. Tanpa itu, pinjal bisa kembali dalam waktu relatif singkat.

Penanganan pinjal perlu disesuaikan dengan kondisi kucing. Ada kucing yang mudah dimandikan, ada pula yang sulit disentuh. Dalam banyak kasus, obat tetes anti pinjal menjadi pilihan praktis karena tidak membutuhkan banyak kontak fisik dan bekerja dalam waktu cukup lama.

Intinya, pinjal memang kecil, tapi dampaknya besar terhadap kenyamanan kucing. Mengenali cirinya sejak awal dan menangani dengan cara yang tepat akan jauh lebih mudah dibanding menunggu sampai kondisinya semakin parah.

Kutu Bulu Ekstrem pada Kucing Outdoor: Pengalaman Mengobati Tendensius, Usia 12 Tahun

 Saya ingin berbagi pengalaman pribadi tentang menghadapi kutu bulu yang sudah masuk kategori ekstrem pada kucing saya bernama Tendensius. Usianya sudah 12 tahun, jantan, dan sejak kecil terbiasa hidup sebagai kucing outdoor. Karakternya liar, sangat mandiri, dan tidak mudah dipegang. Bahkan untuk sekadar memeriksa tubuhnya saja sering kali menjadi tantangan tersendiri.

Awalnya, saya mengira kondisinya masih wajar. Tendensius memang sering menggaruk, tapi sebagai kucing luar rumah, hal itu terlihat biasa saja. Namun lama-kelamaan, frekuensi garukannya semakin sering. Bulu di beberapa bagian tubuh mulai terlihat kusam dan menipis. Saat berhasil mengamati lebih dekat, saya baru sadar bahwa kutu bulunya sudah cukup parah.

Masalahnya, Tendensius bukan tipe kucing yang bisa diajak kerja sama. Begitu didekati, dia langsung menjauh. Diangkat sebentar saja sudah memberontak. Memandikan hampir mustahil, dan memberi obat minum jelas bukan pilihan. Di titik ini, saya mulai berpikir lebih realistis: pengobatan harus menyesuaikan kondisi kucing, bukan sebaliknya.

Akhirnya saya memutuskan menggunakan obat tetes kutu bulu. Pilihan ini saya ambil karena relatif cepat, tidak perlu memandikan kucing, dan bisa bekerja cukup lama. Tantangan terbesarnya justru ada di proses pemberiannya.

Butuh strategi dan kesabaran ekstra. Saya menunggu momen ketika Tendensius sedang makan atau terlihat lebih tenang. Dengan gerakan cepat dan hati-hati, obat tetes saya aplikasikan di area tengkuk, tepat di bagian yang sulit dijilat. Prosesnya benar-benar seperti “satu kesempatan, satu gerakan”. Kalau meleset, belum tentu ada kesempatan kedua.

Beberapa hari setelah pemberian, perubahan mulai terlihat. Tendensius terlihat lebih jarang menggaruk. Bulu yang sebelumnya tampak kusam perlahan mulai membaik. Meski tidak langsung bersih total, kondisinya jauh lebih nyaman dibanding sebelumnya.

Sebagai kucing outdoor, Tantangan tidak berhenti di satu kali pengobatan. Lingkungan luar membuat risiko kutu bulu selalu ada. Karena itu, saya memilih untuk lebih rutin mengamati dari kejauhan. Jika terlihat mulai sering menggaruk lagi, saya tahu sudah saatnya bersiap melakukan pengobatan ulang.

Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa tidak semua kucing bisa ditangani dengan cara ideal seperti di buku panduan. Ada kucing yang butuh pendekatan ekstra, lebih banyak kesabaran, dan solusi yang realistis.

Mengobati Tendensius bukan soal hasil instan, tapi soal usaha konsisten agar dia tetap nyaman menjalani hari-harinya sebagai kucing tua yang tangguh. Dan bagi saya, itu sudah lebih dari cukup.

Bahaya Kutu Bulu pada Kucing yang Sering Dianggap Sepele

 Kutu bulu pada kucing sering dianggap masalah ringan. Banyak pemilik kucing mengira selama kucing masih makan lahap dan terlihat aktif, kutu bulu bukanlah hal yang perlu dikhawatirkan. Padahal, jika dibiarkan terlalu lama, kutu bulu bisa menimbulkan beberapa dampak yang kurang baik bagi kesehatan dan kenyamanan kucing.

Salah satu dampak paling awal adalah rasa gatal yang terus-menerus. Meski terlihat ringan, gatal yang terjadi secara berulang bisa membuat kucing sering menggaruk atau menjilati tubuhnya. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini bisa menyebabkan iritasi kulit dan membuat kucing menjadi tidak nyaman.

Kutu bulu juga bisa memengaruhi kualitas bulu kucing. Bulu yang awalnya halus bisa menjadi kusam, mudah rontok, dan terlihat kurang terawat. Pada beberapa kucing, bulu di area tertentu tampak menipis akibat sering digaruk atau dijilat.

Jika kondisi kulit mulai teriritasi, risiko luka kecil pun meningkat. Luka-luka ini sering kali tidak terlihat jelas karena tertutup bulu. Namun, jika tidak diperhatikan, luka bisa menjadi pintu masuk bagi bakteri dan memicu infeksi kulit ringan.

Pada kucing yang sensitif, keberadaan kutu bulu bisa memicu reaksi alergi ringan. Kulit menjadi kemerahan, kucing tampak lebih sering menggaruk, dan terlihat gelisah. Reaksi ini bisa berbeda pada setiap kucing, tergantung daya tahan tubuh dan kondisi kulitnya.

Masalah lain yang jarang disadari adalah stres. Rasa gatal yang tidak kunjung hilang bisa membuat kucing sulit beristirahat dengan nyaman. Kucing jadi lebih mudah rewel, sering berpindah tempat tidur, atau terlihat kurang rileks dibanding biasanya.

Kutu bulu juga bisa menjadi langkah awal munculnya masalah lain. Kucing yang terus menggaruk berisiko mengalami penurunan kondisi kulit, sehingga lebih mudah terkena gangguan kulit lain jika kebersihan tidak terjaga dengan baik.

Selain itu, jika jumlah kucing di rumah cukup banyak, kutu bulu bisa menyebar dengan cepat dari satu kucing ke kucing lainnya. Masalah yang awalnya terlihat kecil bisa menjadi lebih merepotkan jika tidak ditangani sejak awal.

Meski kutu bulu tidak seberat pinjal atau scabies, tetap penting untuk tidak mengabaikannya. Perawatan rutin, menjaga kebersihan lingkungan, dan memeriksa bulu kucing secara berkala bisa membantu mencegah masalah berkembang lebih jauh.

Kesimpulannya, kutu bulu memang sering terlihat ringan, tapi tetap bisa berdampak pada kenyamanan dan kesehatan kucing jika dibiarkan. Menangani sejak dini jauh lebih mudah dan membuat kucing tetap merasa nyaman.

Kutu Bulu, Pinjal, Kutu Kucing, Ringworm, dan Scabies: Kenali Bedanya Biar Nggak Salah Tangani

 

Masalah kulit pada kucing sering bikin bingung. Gatal sedikit dikira kutu, bulu rontok dikira jamur, atau luka kecil dianggap biasa. Padahal penyebabnya bisa beda-beda. Yang paling sering ditemui adalah kutu bulu, pinjal (yang sering disebut kutu kucing), ringworm, dan scabies. Meski gejalanya kadang mirip, sebenarnya karakter dan penanganannya berbeda.

Kutu bulu biasanya berukuran sangat kecil dan sering menempel di batang bulu. Gerakannya lambat dan tidak melompat. Kucing dengan kutu bulu biasanya masih terlihat cukup normal, hanya sesekali menggaruk. Dampaknya cenderung ringan, tapi kalau dibiarkan, bulu bisa tampak kusam dan kucing jadi kurang nyaman.

Pinjal adalah penyebab gatal paling umum pada kucing. Ukurannya kecil, berwarna gelap, dan sangat lincah. Pinjal bisa melompat, jadi sering sulit ditangkap. Gigitan pinjal bisa bikin kucing gatal hebat, kulit kemerahan, dan kadang muncul luka akibat garukan berlebihan. Di kalangan pemilik kucing, pinjal inilah yang paling sering disebut sebagai “kutu kucing”.

Istilah kutu kucing sendiri sebenarnya bukan jenis khusus. Dalam percakapan sehari-hari, sebutan ini biasanya merujuk ke pinjal karena paling sering terlihat dan paling mengganggu.

Berbeda dengan kutu, ringworm bukan disebabkan oleh hewan kecil, melainkan infeksi jamur. Ringworm biasanya ditandai dengan area bulu rontok berbentuk lingkaran, kulit terlihat kering atau bersisik, dan kadang kemerahan. Tidak selalu gatal, jadi banyak yang awalnya mengira ini hanya rontok biasa. Ringworm cukup mudah menular, baik ke kucing lain maupun ke manusia.

Sementara itu, scabies disebabkan oleh tungau yang hidup di bawah kulit. Kondisi ini biasanya jauh lebih mengganggu. Kucing terlihat sangat gatal, sering menggaruk hingga luka, dan kulit bisa menebal atau berkerak. Area yang sering terdampak adalah telinga, wajah, leher, dan kaki. Dibanding masalah kulit lainnya, scabies cenderung membuat kucing tampak paling tidak nyaman.

Kalau dilihat dari tingkat gangguannya, kutu bulu biasanya paling ringan, disusul pinjal. Ringworm dan scabies butuh perhatian lebih karena bisa menyebar dan memerlukan pengobatan khusus.

Dari pengalaman banyak pemilik kucing, kesalahan yang sering terjadi adalah menyamakan semua masalah kulit sebagai “kutu”, lalu langsung memberi obat anti kutu. Padahal, jamur dan scabies tidak akan membaik hanya dengan obat kutu biasa.

Karena itu, penting untuk memperhatikan ciri-cirinya. Apakah kucing terus menggaruk? Apakah ada bulu rontok berbentuk lingkaran? Apakah kulitnya berkerak? Mengamati detail kecil bisa sangat membantu menentukan langkah selanjutnya.

Intinya, semakin cepat kita mengenali jenis masalah kulitnya, semakin cepat juga kucing bisa merasa nyaman kembali.

Pengalaman Ganti Makanan Kucing Tanpa Drama

 

Ganti makanan kucing itu sering terdengar sepele, tapi buat yang pelihara lebih dari satu kucing, urusannya bisa jadi lumayan bikin deg-degan. Salah langkah sedikit, bisa berujung pup lembek, muntah, atau kucing mogok makan. Dari pengalaman merawat beberapa kucing di rumah, saya belajar satu hal penting: ganti makanan itu harus pelan-pelan, nggak bisa dadakan.

Awalnya, saya juga sempat tergoda langsung mengganti makanan lama ke makanan baru. Alasannya klasik, entah karena rekomendasi orang, harga lebih masuk akal, atau kandungan nutrisinya terlihat lebih bagus. Tapi hasilnya malah bikin repot. Beberapa kucing jadi pup lembek, ada yang terlihat kurang nyaman, dan suasana rumah jadi agak ribet beberapa hari.

Dari situ saya mulai ubah cara. Setiap mau ganti makanan, saya selalu pakai metode transisi bertahap. Hari pertama sampai kedua, makanan baru hanya dicampur sekitar seperempat dari porsi. Sisanya tetap makanan lama. Di tahap ini, saya lebih banyak mengamati daripada bereksperimen. Pup, nafsu makan, dan aktivitas jadi indikator utama.

Kalau kondisi masih aman, hari ketiga dan keempat porsi makanan baru saya naikkan jadi sekitar setengah. Biasanya di fase ini mulai kelihatan apakah kucing bisa menerima atau perlu waktu lebih lama. Selama pup masih oke dan kucing tetap makan dengan lahap, proses dilanjutkan.

Hari kelima sampai ketujuh, porsi makanan baru saya tambah lagi sampai akhirnya makanan lama benar-benar dihentikan. Dengan cara ini, sebagian besar kucing bisa beradaptasi tanpa drama. Pup tetap stabil, kucing nggak muntah, dan nafsu makan tetap terjaga.

Satu hal yang saya pelajari, tiap kucing punya ritme adaptasi sendiri. Ada yang cepat, ada juga yang perlu waktu lebih panjang. Kalau ada satu kucing yang terlihat butuh waktu lebih lama, saya nggak memaksakan. Porsinya diturunkan sedikit, lalu dinaikkan lagi pelan-pelan.

Saya juga selalu pastikan air minum tersedia cukup dan bersih. Saat ganti makanan, terutama dari makanan basah ke kering atau sebaliknya, asupan cairan sangat berpengaruh ke pencernaan kucing.

Hal lain yang cukup membantu adalah tidak mencampur terlalu banyak merek atau varian sekaligus. Fokus satu jenis dulu, biar kalau ada reaksi tertentu, lebih mudah mengetahui penyebabnya.

Dari pengalaman ini, saya sadar bahwa kunci ganti makanan kucing tanpa drama bukan di mereknya, tapi di caranya. Pelan-pelan, konsisten, dan rajin mengamati. Kalau kucing terlihat nyaman, biasanya hasilnya juga jauh lebih baik dalam jangka panjang.

Sekarang, setiap kali harus ganti makanan, saya sudah jauh lebih tenang. Nggak ada lagi panik karena pup bermasalah atau kucing mogok makan. Semua bisa dilewati dengan lebih santai.

Tanda Makanan Cocok dan Tidak Cocok untuk Kucing

 Setiap kucing itu unik. Makanan yang cocok di satu kucing, belum tentu langsung cocok di kucing lain. Jadi wajar banget kalau kadang kita perlu “kenalan dulu” sebelum benar-benar yakin satu jenis makanan itu pas.

Salah satu tanda paling gampang dilihat adalah dari pup-nya. Kalau makanan cocok, biasanya pup kucing padat, nggak terlalu lembek, dan baunya masih wajar. Warnanya juga cenderung stabil dari hari ke hari. Kalau setelah ganti makanan kondisinya tetap seperti ini, biasanya pencernaan kucing bisa menerima dengan baik.

Dari cara makannya juga kelihatan. Kucing makan dengan tenang, nggak ragu-ragu, dan jarang ninggalin makanan. Pola makannya jadi lebih teratur, dan kita nggak perlu terlalu sering bujuk-bujuk saat jam makan.

Bulu kucing juga sering “ngomong”. Kalau makanan cocok, bulu biasanya terasa lebih halus, kelihatan bersih, dan rontoknya masih dalam batas normal. Perubahannya memang nggak instan, tapi setelah beberapa minggu biasanya mulai terasa bedanya.

Aktivitas sehari-hari juga bisa jadi petunjuk. Kucing tetap aktif sesuai kebiasaannya, masih mau main, grooming, dan nggak kelihatan gampang capek. Kalau suasana hatinya stabil, itu pertanda tubuhnya cukup nyaman dengan asupan makanannya.

Berat badan yang terjaga juga penting. Nggak turun tanpa sebab, tapi juga nggak naik berlebihan. Ini biasanya tanda nutrisi terserap dengan cukup baik.

Nah, kalau makanan kurang cocok, tandanya sering muncul pelan-pelan. Misalnya pup jadi agak lembek atau baunya lebih tajam dari biasanya. Kadang ini cuma fase adaptasi, apalagi kalau baru ganti makanan. Selama nggak berlangsung lama, masih bisa dimaklumi.

Tapi kalau sudah beberapa hari belum juga membaik, mungkin memang tubuh kucing belum sepenuhnya cocok. Ada juga kucing yang jadi lebih sering muntah, atau terlihat kurang nyaman setelah makan.

Bulu yang mulai tampak kusam atau rontok lebih banyak dari biasanya juga bisa jadi sinyal kecil. Begitu juga kalau kucing kelihatan lebih pasif, lebih sering tidur, atau kurang semangat dibanding biasanya.

Satu hal yang sering luput diperhatikan adalah bau pup yang jadi jauh lebih menyengat. Ini kadang menandakan makanan tersebut agak “berat” untuk dicerna oleh sistem pencernaan kucing.

Yang paling penting, jangan buru-buru menyimpulkan hanya dari satu kali kejadian. Saat mencoba makanan baru, sebaiknya lakukan transisi pelan-pelan selama lima sampai tujuh hari dengan mencampur makanan lama dan baru. Cara ini biasanya jauh lebih aman buat pencernaan kucing.

Kalau setelah masa adaptasi kondisi kucing tetap terasa kurang nyaman, nggak ada salahnya mulai mencari alternatif lain. Proses menemukan makanan yang pas memang butuh waktu dan kesabaran.

Intinya, makanan yang cocok bikin kucing terlihat nyaman dari banyak sisi, mulai dari pencernaan, bulu, sampai aktivitas hariannya. Tinggal kita rajin mengamati perubahan kecil yang muncul.

Panduan Makanan Sehat untuk Kucing Dewasa agar Tidak Mudah Sakit

 Makanan memiliki peran besar dalam menentukan kesehatan kucing dewasa. Dari pengalaman merawat kucing dalam jangka panjang, banyak masalah kesehatan seperti diare berulang, muntah, bulu kusam, hingga kucing mudah lemas ternyata berawal dari makanan yang kurang sesuai. Kucing bisa saja terlihat baik-baik saja karena masih mau makan, padahal tubuhnya sedang beradaptasi dengan nutrisi yang tidak ideal.

Artikel ini disusun sebagai panduan praktis memilih dan mengatur makanan sehat untuk kucing dewasa agar tidak mudah sakit, berdasarkan prinsip nutrisi dasar dan pengalaman lapangan.

Kucing adalah hewan karnivora sejati. Artinya, kebutuhan utamanya adalah protein hewani. Makanan kucing yang sehat harus menjadikan protein sebagai komposisi utama, bukan sekadar pelengkap. Idealnya, protein berada di urutan pertama dalam daftar komposisi, seperti ayam, ikan, atau daging.

Selain protein, kucing juga membutuhkan lemak sehat sebagai sumber energi, vitamin, dan mineral untuk mendukung fungsi organ. Karbohidrat sebenarnya tidak menjadi kebutuhan utama kucing, sehingga jika terlalu tinggi justru bisa membebani pencernaan.

Dalam praktiknya, banyak kucing dewasa yang tampak sering lapar atau kurus padahal makan cukup. Salah satu penyebabnya adalah kualitas makanan yang rendah sehingga kebutuhan nutrisinya tidak benar-benar terpenuhi.

Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul adalah soal dry food dan wet food. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan. Dry food lebih praktis, tahan lama, dan membantu menjaga kesehatan gigi. Namun, kadar airnya rendah sehingga jika hanya mengandalkan dry food, kucing berisiko kurang cairan.

Wet food memiliki kadar air tinggi dan aroma yang lebih kuat sehingga cocok untuk kucing yang susah makan. Dari pengalaman, kombinasi dry food dan wet food sering menjadi pilihan paling aman. Pagi atau siang diberi dry food, malam diberi wet food, dengan tetap menyediakan air bersih setiap saat.

Kesesuaian makanan bisa dilihat dari respons tubuh kucing. Makanan yang cocok biasanya ditandai dengan feses padat dan tidak berbau menyengat, bulu halus dan tidak mudah rontok, nafsu makan stabil, serta aktivitas yang normal. Sebaliknya, jika kucing sering diare, muntah, atau bulu tampak kusam, bisa jadi makanan tersebut tidak cocok meskipun mereknya terkenal.

Banyak pemilik tergoda untuk sering mengganti makanan demi mencoba yang “lebih bagus”. Padahal, pergantian makanan yang terlalu sering justru bisa membuat sistem pencernaan kucing stres. Jika ingin mengganti makanan, lakukan secara bertahap selama 5–7 hari dengan mencampurkan makanan lama dan baru sedikit demi sedikit.

Porsi dan jadwal makan juga berpengaruh besar. Kucing dewasa idealnya diberi makan 2–3 kali sehari dengan porsi terukur. Memberi makan berlebihan tidak membuat kucing lebih sehat, malah berisiko obesitas dan masalah organ dalam. Dari pengalaman, kucing yang makannya teratur justru lebih stabil kesehatannya dibanding yang dibiarkan makan sepuasnya.

Soal makanan murah atau mahal, harga bukan satu-satunya penentu kualitas. Ada makanan lokal dengan harga terjangkau yang tetap memiliki komposisi protein baik. Yang terpenting adalah membaca label dan mengamati reaksi kucing setelah mengonsumsinya. Makanan mahal tapi tidak cocok tetap akan menimbulkan masalah.

Beberapa pemilik juga memberi makanan tambahan seperti ikan rebus atau daging ayam. Ini boleh saja sesekali, tetapi jangan dijadikan menu utama tanpa perhitungan nutrisi. Makanan rumahan tanpa suplemen tambahan sering kali tidak memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral kucing.

Vitamin dan suplemen sebenarnya tidak selalu diperlukan jika kucing mendapatkan makanan seimbang. Dari pengalaman, vitamin lebih dibutuhkan saat kucing dalam masa pemulihan, stres, atau nafsu makan menurun. Memberi vitamin secara berlebihan justru bisa membebani organ tubuh.

Air minum sering kali diabaikan, padahal sangat penting. Kucing yang kurang minum berisiko mengalami gangguan ginjal dan saluran kemih. Pastikan air selalu bersih dan mudah dijangkau. Beberapa kucing lebih suka air mengalir, sehingga water fountain bisa menjadi solusi.

Kesimpulannya, makanan sehat untuk kucing dewasa bukan tentang merek tertentu, tetapi tentang kesesuaian, keseimbangan nutrisi, dan konsistensi. Dengan makanan yang tepat, banyak masalah kesehatan bisa dicegah sejak awal tanpa harus sering ke dokter.

Panduan Lengkap Obat Cacing untuk Kucing: Jenis, Dosis, dan Pengalaman Nyata

 Obat cacing merupakan perawatan dasar yang sering dianggap sepele oleh pemilik kucing. Padahal, infeksi cacing bisa memengaruhi nafsu makan, berat badan, hingga daya tahan tubuh kucing. Dari pengalaman merawat banyak kucing, obat cacing yang tepat dan diberikan dengan benar sangat menentukan kesehatan jangka panjang.

Jenis Cacing yang Umum Menyerang Kucing

Cacing gelang, cacing pita, dan cacing tambang adalah jenis yang paling sering ditemukan. Gejalanya tidak selalu jelas. Banyak kucing tetap aktif dan mau makan, padahal di dalam ususnya terjadi infestasi.

Jenis Obat Cacing untuk Kucing

Obat cacing tersedia dalam bentuk tablet dan cair. Tablet seperti Drontal dikenal praktis dan efektif, sementara obat cair sering dipilih pemilik kucing dalam jumlah banyak karena lebih ekonomis.

Dosis dan Cara Pemberian

Dosis harus disesuaikan dengan berat badan. Kesalahan takaran bisa membuat obat tidak bekerja optimal atau justru memicu efek samping.

Perlukah Diulang Setelah 14 Hari?

Berdasarkan pengalaman, pengulangan dua minggu kemudian sangat disarankan untuk memutus siklus telur cacing.

Kesimpulan

Obat cacing bukan hanya soal merek, tetapi soal ketepatan dosis, waktu pemberian, dan konsistensi.

Pengalaman Pribadi Menggunakan Obat Cacing Drontal untuk Kucing

 Drontal adalah obat cacing yang sudah lama saya gunakan untuk kucing-kucing di rumah. Sebelum mencoba alternatif lain, Drontal bisa dibilang menjadi pilihan utama karena reputasinya yang baik dan sering direkomendasikan oleh dokter hewan maupun sesama pecinta kucing.

Awal menggunakan Drontal, jumlah kucing saya masih relatif sedikit. Saat itu, pemberian obat cacing terasa cukup ringan, baik dari sisi teknis maupun biaya. Drontal berbentuk tablet, sehingga pemberiannya bisa langsung ke mulut kucing atau dicampurkan dengan makanan, tergantung karakter masing-masing kucing.

Dari pengalaman saya, efektivitas Drontal cukup terasa. Setelah pemberian obat, biasanya dalam satu sampai dua hari, kondisi feses kucing mulai berubah. Pada beberapa ekor, terlihat cacing mati ikut keluar bersama kotoran. Nafsu makan juga cenderung membaik, terutama pada kucing yang sebelumnya terlihat agak kurus atau kurang aktif.

Dalam hal dosis, Drontal tergolong jelas dan praktis karena disesuaikan dengan berat badan kucing. Saya selalu berusaha menimbang atau setidaknya memperkirakan berat kucing seakurat mungkin agar dosis tidak berlebihan. Hal ini penting karena meskipun Drontal dikenal aman, tetap saja obat cacing bekerja cukup keras di saluran pencernaan.

Saya juga terbiasa mengulangi pemberian Drontal setelah 14 hari. Dari pengalaman, satu kali pemberian saja sering kali belum cukup untuk memutus siklus hidup cacing sepenuhnya. Telur cacing yang masih tersisa bisa menetas kembali, dan jika tidak diulang, infeksi bisa muncul lagi tanpa kita sadari. Dengan pengulangan dua minggu kemudian, hasilnya jauh lebih maksimal dan tahan lama.

berikut obat cacing drontal https://s.shopee.co.id/6farjY02cH  jangan terkecoh obat cacing drontal palsu, saya pernah mendapat obat palsu, saya tau dari dokter ketika saya bawa obat dan saya bandingkan dengan obat cacing dari dokter hewan langganan. 

Dari sisi respons kucing, sebagian besar menunjukkan reaksi yang normal. Tidak ada muntah, tidak ada lemas berlebihan, dan aktivitas tetap stabil. Hanya pada satu dua kucing yang sensitif, terlihat sedikit penurunan nafsu makan dalam satu hari pertama, namun kondisi ini cepat kembali normal keesokan harinya.

Namun, seiring waktu, ketika jumlah kucing semakin banyak, tantangan mulai terasa. Memberikan Drontal untuk banyak kucing sekaligus, lalu mengulanginya dua minggu kemudian, mulai terasa cukup berat dari sisi biaya. Apalagi jika harus rutin setiap beberapa bulan. Di titik inilah saya mulai mempertimbangkan alternatif lain, meskipun secara efektivitas, Drontal tetap saya akui sangat baik.

Kesimpulan dari pengalaman pribadi saya, Drontal adalah obat cacing yang efektif, relatif aman, dan hasilnya terlihat jelas, terutama untuk pemilik kucing dengan jumlah sedikit hingga sedang. Untuk pemilik dengan jumlah kucing banyak, Drontal tetap bagus, namun perlu pertimbangan finansial jangka panjang.

Pengalaman Mencoba Obat Cacing Alberworm untuk Kucing (Day 2)

 Setelah pemberian Alberworm pada hari pertama, saya melanjutkan pengamatan dengan lebih teliti untuk melihat dampaknya dalam jangka pendek dan menengah. Fokus utama saya adalah nafsu makan, aktivitas harian, serta kondisi feses kucing-kucing.

Pada hari ke-2, kondisi kucing secara umum terlihat stabil. Tidak ada kucing yang tampak lemas atau menunjukkan reaksi negatif seperti muntah maupun diare. Nafsu makan masih terjaga dengan baik, bahkan beberapa kucing terlihat lebih cepat menghampiri tempat makan dibanding hari-hari sebelumnya. Aktivitas juga cenderung normal, kucing tetap bermain, grooming, dan tidur seperti biasa.

Untuk feses, mulai terlihat perubahan pada beberapa kucing. Ada yang fesesnya sedikit lebih lunak dari biasanya, namun masih dalam batas wajar dan tidak berbau menyengat. Pada satu dua kucing, terlihat sisa cacing mati yang ikut keluar bersama kotoran. Ini menjadi indikasi awal bahwa obat bekerja di dalam saluran pencernaan. Sejauh hari kedua ini, saya menilai respons tubuh kucing terhadap Alberworm cukup baik dan relatif aman.

Memasuki hari ke-14, saya kembali melakukan observasi sebelum memberikan dosis ulang. Secara umum, kondisi kucing terlihat lebih stabil dibandingkan sebelum pengobatan. Nafsu makan konsisten baik, berat badan terasa lebih berisi saat dipegang, dan bulu terlihat sedikit lebih rapi pada beberapa ekor, terutama yang sebelumnya tampak kusam.

Feses kucing pada hari ke-14 juga menunjukkan perbaikan. Teksturnya lebih padat dan jarang ditemukan sisa cacing. Ini menguatkan alasan saya untuk selalu melakukan pengulangan obat cacing dua minggu setelah pemberian pertama. Tujuannya bukan hanya membunuh cacing dewasa, tetapi juga memutus siklus telur cacing yang mungkin baru menetas.

Pada hari ke-14 inilah saya kemudian memberikan dosis ulang Alberworm dengan takaran yang sama seperti sebelumnya. Hingga setelah pemberian ulang, tidak tampak reaksi berat atau gangguan kesehatan berarti. Dari rangkaian pengamatan ini, Alberworm menurut pengalaman saya cukup efektif sebagai obat cacing alternatif, terutama bagi pemilik kucing dalam jumlah banyak dengan pertimbangan biaya.

Sekali lagi, pengalaman ini bersifat personal dan hasilnya bisa berbeda pada setiap kucing, tergantung kondisi tubuh, usia, dan tingkat infestasi cacing.

Friday, May 15, 2020

Pengalaman Mencoba Obat Cacing Alberworm untuk Kucing: Efektifkah?

Baru hari ini obat cacing ini saya cobakan ke kucing-kucing di rumah. Sebelumnya, saya rutin menggunakan obat cacing Drontal. Namun karena jumlah kucing cukup banyak, lama-kelamaan saya mulai berhitung ulang. Dari situlah akhirnya saya sampai pada pilihan obat cacing Alberworm.

Alberworm dikenal sebagai obat cacing spektrum luas. Obat ini dikemas dalam botol plastik berukuran 120 ml, tetapi sayangnya tidak mencantumkan komposisi bahan pada kemasannya. Untuk harga, Alberworm tergolong sangat terjangkau. Saya membelinya secara online dengan harga di bawah Rp30.000. Memang tiap toko memasang harga berbeda-beda, tetapi rata-rata masih di kisaran tersebut.

Dari sisi aturan pakai, dosis yang tertera adalah 2,5 ml untuk setiap 10 kg berat badan. Kita tahu sendiri, kucing jarang sekali mencapai berat 10 kg. Umumnya berat badan kucing dewasa berada di kisaran 4, 5, 6, atau 7 kg. Agar lebih mudah dan akurat, saya menggunakan suntikan 3 ml sebagai alat takar. Untuk kucing dewasa, saya berikan sekitar setengah suntikan, yaitu kurang lebih 1,5 ml per ekor.

Biasanya, saya selalu mengulangi pemberian obat cacing tepat dua minggu setelah dosis pertama. Tujuannya untuk memastikan telur-telur cacing yang mungkin masih tersisa ikut teratasi. Kalau tidak diulang, ada banyak kasus di mana cacing yang sebelumnya masih bertelur kembali menguasai usus kucing. Akibatnya, pengobatan menjadi kurang tuntas dan dalam jangka panjang dikhawatirkan bisa menimbulkan kekebalan pada cacing itu sendiri.

Tentu saja, keputusan untuk mengulang atau tidak kembali ke masing-masing pemilik. Namun dari pengalaman saya, pengulangan dua minggu kemudian memberi hasil yang lebih aman dan optimal. Apalagi jika membayangkan harus memberikan Drontal untuk sekitar 30 ekor kucing dan mengulanginya lagi dua minggu setelahnya, rasanya cukup membuat kantong bolong. Bisa-bisa langsung senyum kecut sambil tertawa sendiri.

Obat Alberworm ini saya berikan sekitar pukul dua siang. Lalu pada malam harinya, sekitar pukul tujuh, kucing-kucing mendapat makan malam seperti biasa. Dari pengamatan sekilas, respons mereka terlihat cukup baik. Nafsu makan tampak lebih lahap dari biasanya. Padahal, sehari-hari mereka memang sudah termasuk doyan makan.

Untuk memastikan apakah benar nafsu makan mereka meningkat, saya sengaja menambahkan porsi makan sekitar setengah dari biasanya. Hasilnya cukup meyakinkan. Dengan kecepatan makan yang sama, porsi yang lebih banyak tetap habis. Bisa dibilang, hasil hari pertama ini “nicely done”. Sejauh pengamatan awal, obatnya tampak bekerja dengan baik.

Besok saya akan melakukan update lanjutan untuk melihat bagaimana dampaknya di hari kedua setelah pemberian obat. Saya akan memperhatikan kondisi umum kucing, nafsu makan, aktivitas, serta perubahan lain yang mungkin muncul.

Catatan penting, tulisan ini murni berdasarkan pengalaman pribadi dan bukan pengganti saran dokter hewan. Setiap kucing memiliki kondisi kesehatan yang berbeda. Jika muncul reaksi yang tidak normal, sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga profesional.

Thursday, May 14, 2020

Review makanan Equil

nah, makanan yang satu ini menjadi menu sarapan pus di pagi hari. selama 6 bulan terakhir ini,, mereka tidak omplain mengeni equil, artinya sangat lahab jika diberi equil. hasilnya wlaupun diberikan hanya di pagi hari, ternyata dampaknya pada kucing adalah pup padat, jarang diare, biasanya setelah makan equil, mereka tetiba menjadi sangat energik. selang beberapa  waktu, meerka kembali tidur. 

tapi ini cukup unik, memang secara mafaat kesehatan oke sekali. saya megambil equil hairball, bukan karena agar bulunya bagus, tapi yang ada dan ijual di dekat rumah menag yang jenis hairball. 

setiap kali makan equil, reaksinya sangat menyenangkan, lahab, rebutan (sekalipun tiap kucing sudha punya piring sendiri sendiri), kemudian seteah makan, mereka juga minum biasanya. jadi saya setidaknya tidak perlu khawatir jika kucing kena fus. 

yang paling menyenangkan adalah berat badannya menjadi ideal. jujur, saya tidak suka kucing obesitas. maksimum kuicng 7 kg sudah gendut sekali. biasanya kalau ada yg obese, agak didietkan sedikit. jika equil diberikan sehri tiga kali, kucing tidka pernah bosan, tapi kantong jebol hehehehe. 

review makanan Kucing M*o

sudah sekitar dua tahun ini, mengganti makanan kucing menjadi total dry food. dengan 30 kucing yang makan, mereka memiliki preferensi masing-masing. tetapi untuk makanan, ada makanan yang dapat diterima secara general dan ada beberapa makanan yang kucing bahkan tidak mau mencium. 

sekilas mengenai 30 kucing di rumah. mereka 90% kucing kampung lucu (dari prespektif saya), 10% campuran. biasanya kucing kampugn di rumah memiliki penciuman yang cukup tajam, alias, dryfood yang tidak begitu berbau amis, meerka tidak begitu suka.

namun, ada pakan yang cukup mereka sukai, yaitu M*o, biasanya 3 sak dengan rasa yang berbeda-beda mereka semua suka. pup normal, makan lahab tapi mudah bosan jika tidak segera diganti dengan rasa yang lain. 

tuna-paling favorite, memiliki daya bosan yang tidak tinggi
Gourme, lahab, tapi setelah satu sak, ,mereka malas menghabiskan
fish, luamayan, seperti gourme, mereka lahb. tapi mudah bosan
chicken, kucing kucing paling tidak suka (mungkin karena chickennya kalau tidak keliru ada campuranm sayuran)
salmon, luamyan lahab seperti tuna.

untuk membuat kucing ke berat badan ideal (tidak gemuk sekali, tapi juga tidak kurus sekali) agak membutuhkan porsi yang banyak. jadinya agak boros. telepas dari hal tersebut, kucing pada dasarnya suka dengan rasa rasa yang tersedia di m*o. well, sekian infomasi mengenai dry food yang satu ini. untuk harga sangat bervariasi, karena membeli dalam sak, biasanya lebih murah. tapi memang harganya setiap bulan serign berubah. aneh.. 
semoga kucign teman teman juga sehat selalu. 

Wednesday, May 8, 2019

Kucing Hamil keracunan Racun Tikus, survivor


Perkenalkan Goldy, sebelumnya bernama Nyolen (nyowo balen), tetapi karena dua kali megalami kondisi nyolen, saya mengganti namanya menjadi Goldy..pure and sweet. 

Bermula pada hari Jumat pagi, saya dikejutkan oleh sepupu yang mengatakan bahwa Goldy kejang-kejang. Goldy sedang hamil saat itu, tegopoh gopoh mendatangi Goldy, Ibu mengatakan kemungkinan besar kena racun. Karena tidak pernah mengalami kucing keracunan tikus, sepupu memberi tahu untuk memberi degan hijau. Sampai di pasar, seorang penjual memberikan secara cuma-cuma air degan hijaunya..Barakallah Ibu, semoga menjadi amal kebaikan.
Kondisi Goldy sebelum terkena racun: Hamil, umur sekitar 3 tahun, nafsu makan banyak, lincah, mandiri…
Reaksi Goldy setelah meminum degan hijau adalah bertambah kejang, intensitas semakin sering. 10 ml suntikan saya minumkan paksa setiap 15 menit pada 5 jam pertama…kemudian saya ulangi untuk setiap 30 menit… setiap kencing, Goldy mengalami kejang. Goldy tidak saya beri makan, saya saya beri air degan hijau.
Hari kedua, Goldy sudah agak tenang, masih kejang tetapi intensitas berkurang. Goldy diantar ke dokter hewan. Dokternya memarahi saya karena tidak segera membawa ke vet. Saya diam saja..everyone has their own reason. Kenapa dijudge dengan mudahnya. Sederhananya, setelah dimarahi, vet menyuntikkan obat anti kejang, tenaga, dan satu lagi lupa. Masih terus Goldy diberi air kelapa tanpa makan, vet menyarankan untuk memberi makan. Saya beri snappy tom rasa ayam.
Hari ketiga, Goldy saya antar ke vet lain, Alhamdulilah vetnya sabar dan menyuntikkan antiracun, anti nyeri, dan vitamin. Setelah diantar ke vet, Goldy sampai rumah terengahah engah, ingin kencing dan setiap kencing selalu kejang. Goldy dipaksa makan…dan kalau pagi sudah mau makan, siang dan seterusnya tetap dipaksa.
Hari keempat, saya antar Goldy ke vet yang sama. Disuntik sama tanpa anti-racun kali ini.
Hari kelima, saya antar Goldy ke vet, kali ini disuntik antiracun, anti nyeri, dan vitamin. Makan dan minum masih dipaksa, kadang makan sendiri mau. Kencing masih tetap kejang
Hari keenam, sama seperti hari kelima, kencing masing tetap kejang
Hari keenam. Masih tetap diantar ke Vet, nafsu makan masih oke.
Hari ketuju. Masih tetap diantar ke vet. Kencing masih kejang, nafsu makan tidak ada. Vet mengatakan ada kemungkinan infeksi dari janin nya menjadikan Goldy  nafsu makan. Pun jika di cesar ada risikonya…kuat tidak menerima obat bius. Setelah melalui pertimbangan panjang…
Hari kedelapan, sama seperti hari ketuju

Hari kesembilan, saya ambi keputusan di cesar. Allah telah menitipkan Goldy, saya jaga Goldy. Saya berdoa agar Allah yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu mengangkat penyakit Goldy. Bismillah. Dioperasi cesar….Alhamdulilahhh..operasi lancar…Goldy bisa menerima obat bius dengan takaran yang sangat sangat sangat berhati-hati….
Pasca operasi, saya ke vet hampir setiap hari. Karena pasca operasi, setiap kencing Goldy masih kejang kejang. Atas saran Vet, menggunakan urinary. Setelah digati urinary, memang sedikit ada perubahan. Tetapi vet uga menduga ada infeksi dalam saluran kencing atau saraf kencingnya terkena racun, sehingga ada efek kejang. Setelah hari ke 13 atau 14.. Alhamdulilah Alhamdulilah Alhamdulilahh Goldy tidak kejang lagi. Nafsu makan ada, tapi hanya pagi hari
Sudah 18 hari sejak Goldy terkena racun, saat ini Goldy sudah sangat membaik..masih saya kurung dalam ruangan perpustakaan rumah karena nafsu makan belum pulih sebelumnya…
Tapi yakin, kalau Allah sudah berkehendak, Kun Fayakun …teman tean…kalau kucing kita terkena racun, Bismillah kita berdoa semoga Allah mengangkat penyakit kucing titipan Allah pada kita. Kita upayakan di beri degan hijau dan makanan bergizi. Keadaan Goldy riskan karena racun termakan dan terabsorb dalam ususnya..sehingga efeknya agak lama, berbeda jika racunnya dimuntahkan. jika kucing teman-teman ada yang megalami hal yang sama, semoga Allah segera mengangkat penyakitnya tean. Jagan panic dan tetap diberi air kelapa…ada baiknya tetap dikasih makanan. Oh ya, beberapa artikel menunjukkan jika racun kemudian kita beri kucing dengan air Putih, maka sebenarnya mempercepat racun masuk ke organ penting, entah benar atau tidak. Yang paling ideal adalah kita memberikan air kelapa hijau.

saat ini Gody snagat sangat sangat sehat. Alhamduliah, yang penting kita sabar, berusaha, dan berdoa. 

Sunday, April 29, 2018

flu pada kucing, Calicivirus


3 hari yang lalu, Kenyih, salah satu kucing saya tiba tiba mogok makan. disogok makanan enak masih tetap besikukuh tidak mau makan. tanda Kenyih saat itu:

mulut berliur, badan panas, mulut bau, badan agak dehidrasi, telinga bagian bawah terluka.

karena gejala mirip Princess, kucing saya yang mati jaman dulu, saya coba search mengenai penyakitnya. ternyata gejala match dengan calicivirus, terima kasih untuk informasi dari http://www.misstyameyo.com/2016/01/menyembuhkan-sakit-calicivirus-pada.html info mengenai cream membantu. pun edngan pengobatannya. saat itu yang saya lakukan adalah

1. Infus kucing
2. Vitamin B
3. memaksa makan wetfood Wi***s tuna
4. antibiotik

lalu besoknya, nutrigel plus dan stimuno untuk hewan dierikan.

hari kedua, perilaku Kenyih tamah membuat deg degan

1. tidur
2. mulut tambah lebar terlukanya
3. mata berselapuut

siangnya, Kenyih mau berjalan untuk pup dan makanan masih tetap dipaksa
sorenya, dengan pemberian vitamin yang rutin setiap 3 jam, Kenyih tiba tiba berjalan dengan santai, walau kondisi masih memprihatinkan, untuk pup, tapi kondisinya sudah sangat berbeda. nafas sudah normal

menjelang malam, kondisinya semakin membaik, tetap antibiotik dan vitamin diberikan. infus juga diberikan setiaphari karena minumnya sedikit.

hari ketiga ini, Kenyih sudah mau mencium makanan dan makan sendiri (waau sedikit sekali), vitamin masih rutin diberikan. oh ya, untuk makanan saya memberikan tuna dan revovery saya campur, nampaknya RC rec***ry masih malas dimakan sama si kenyih, lebih prefer wis***s.

oke, sekkian dulu. jika ada perkembangan lagi, saya update informasinya

Monday, October 23, 2017

Mengurus Paspor dengan antrian online

setelah sebulan terjadi pembiaran atas paspor yang harus di perpanjang, akhirnya saya menyerah, kemudian saya mencoba mencari paspor untuk keperluan beasiswa. Dan ternyata...... semua paspor sekarang harus menggunakan ANTRIAN ONLINE, tidak ada lagi PASPOR ONLINE. penggantian ini sedikit membingungkan pada awalnya. dan karena baru diresmikan september 2017, daerah Solo dan Jogja agak lama untuk menunggu antrian. untuk dua bulan ke depan, antrian sudah hampir habis.

saya kemudian mengurus di imigrasi Jogja, walaupun saya tinggal di Solo karena kebetulan mengadakan penelitian di Jogja dan tinggal di rumah Paman, maka saya coba mencari paspor di Imigrasi Yogyakarta.

pertama, saya mencari informasi kepengurusan di luar domisili, ternyata kita membutuhkan:

1. Surat keterangan domisili sementara
2. Surat Jaminan
3. KTP
4. KK
5. Akte Lahir

untungnya, walaupun saya menyiapkan semua dokumen, Imigrasi hanya menanyakan keperluan membuat Paspor (terima kasih petugas imigrasi Jogja yang sangat helpful dan ramah, two thumbs up, great job), karena pada waktu itu ada surat beasiswa, proses berjalan mudah, saya hanya menyerahkan

1. FC KTP
2. FC KK
3. FC Paspor lama

surat keterangan domisili sementara dan surat jaminan tidak digunakan. nah, karena perpanjangan, imigrasi membutuhkan waktu 3 hari untuk memproses. untuk berjaga-jaga, tidak ada salahnya diurus 2 dokumen tersebut.

harap diingat, 3 HARI SETELAH PEMBAYARAN. Jika kita membayar hari senin pagi, paspor kita dihitung 3 hari sejak selasa, jadi kita bisa mengambil hari kamis. jadi, sebisa mungkin kita membayar setelah proses wawancara dan foto. pembayaran bisa dilakukan di bank atau atm, karena sistem pembayarannya mirip BPJS, kita tidak perlu kembali ke imigrasi setelah melakukan pembayaran, imigrasi secara otomatis, telah menandai bahwa kita telah membayar.

setelah 3 hari, kita bisa mengambil paspor dengan membawa  kertas yang diberikan dari pihak imigrasi yang berisi kode nomer pembayaran dan bukti bayar. lalu masuk loket pengambilan dan selesai.


untuk pembuatan surat domisili di Yogya, berikut caranya:

1. meminta surat pengantar RT dan RW.
2. ke kelurahan.
3. ke kecamatan. sampai di kecamatan, surat domisili langsung diproses, hasilnya kita mendapatkan kartu domisili sementara. proses tidak perlu sampai dengan dinas catatan sipil. nampaknya banyak kewenangan catatan sipil yang sudah didelegasikan pada kecamatan. pengurusan ini bisa kurang dari sehari, jika kita bisa mengurus sejak pagi.

Sunday, June 11, 2017

Membasmi kutu dan pinjal pada kucing dengan conditioner

beberapa waktu yang lalu, di Gundul pulang dengan wajah yang kuyu. kasian, saya dekati Gundul. kaget melihat buanyakkk sekali telur pinjal dan pinjal dalam tubuhnya saya suntikkan suntikan kutu. sayangnya dalam 2 minggu tidak banyak progress. telur masih banyak, dan suntikan harus diulang, kasian jika terjadi keracunan dalam darah gundul, akhirnya gundul dimandikan.

saat itu, terinspirasi dari manusia bernafas dengan hidung, jika hidungnya ditutup, toh akan mati. kalau serangga, jika dikasih dengan barang yang memiliki sifat lilin, pasti setidaknya alat nafasnya tertutup zat lilin tersebut, akhirnya mati lemas. akhirnya, berbekal rasa nekat dan penasaran, gundul menjadi eksperimen. caranya

1. saat mandi, ambil air hangat, kucing tenang. diguyurkan sambil air diratakan disekujur tubuh gundul. gundul kemudian diberri sampoo. lalu bilas lagi. conditioner manusia, merk yang saya pakai adalah merk standard yang ada dipasaran yang lebih kental, yaitu untuk creambath, ditambah sedikit air hangat conditioner untuk creambath, agar gundul tidak kaget dan tenang, dicampur dan dioleskan ke tubuh gundul.

2. gundul diajak ngomong selama 20 menit minimal. upaya lice, mites, pinjal dan sejenisnya mati lemas.

2. bilas dengan air hangat, lalu beri sampo lagi agar sisa conditioner hilang.

4. handuki dengan kanebo agar cepat kering, si gundul  takut suara hair dryer.

mandiin gundul pada pukul 10, pukul 12 saya cek, apakah masih ada pinjal dan kutunya. ternyata masih ada yang hidup, banyak malah. tapi ada beberapa yang mulai amti lemas. sore dicek lagi, lumayan banyak yg sudah mati lemas. besok siagnya saya cek, semua pinjal mati lemas.

pengalaman ini benar-benar membekas, karena penanganan kutu kadang cukup sulit. penasaran, saya search mengenai alasan conditioner dapat membunuh kutu,
dan ternyata, kita, manusia juga dapat mengaplikasikan pembunuhan kutu dengan conditioner ini. tapi memang cara ini harus diulangi. pada kasus kucing, pinjal bernafas dengan kulit dan conditioner membuat kulit mreka tertutup denan zat lengket tersebut dan mereka tidak dapat benafas. beberapa menyarankan menggunakan minyak, tapi personal opinion saja, minyak kurang dapat memberikan efek sufocate pada kutu. tapi jika conditioner, karena bentuknya cream, maka benar-benar menutupi jalan nafas.

hanya saja, saya juga belum yakin apakah yang membunuh kutu aalah conditioner ini atau sampoo yangs aya pakai, yaitu sampoo seven flowers milik "selsun 7 herbal". nampaknya tidak juga, sebab yang lain tidak saya beri sampoo selsun, beberapa pinjal juga mati. semoga tips ini berguna. spoiler*mungkin di kucing yang lain hasilnya berbeda. but anyway, gundul energic sekali saat ini.

Sunday, May 28, 2017

Indonesia dan Pancasila

setelah kasus Pak Ahok selesai, semakin banyak penelitian dan beberapa analisis terkait kerukunan umat beragama dan ideologi bernegara. menjelaskan di ruang kelas saja, bahwa Indonesia adalah Negara hukum berlandaskan Pancasila sebagai kekuatan hukum tertinggi nampaknya tidak cukup.

ketika membaca cnn, nytimes, jelas terlihat kekhawatiran dua media tersebut atas Indonesia. entah mengapa, kekhawatiran mereak sebenarnya ada benarnya juga. dalam beberapa group wa, terkadang ada ujaran kebencian yang sebenarnya, kita sendiri yang memposting ketidaksetujuan dengan agama lain, TETAPI kita sendiri tau bahwa ada anggota yang beragama selain muslim. dimana toleransi kita sebagai Indonesia. bukankah telah jelas founding father kita secara menjelaskan bahwa terdapat 5 agama yang diakui. apa yang salah?

waktu kecil, banyak ditemui tetangga yang berbeda agama dan membaur dengan sangat baik. tidak ada kekhawatiran cam-macam, tetapi saat ini karena berita tentang Pak Ahok yang luar biasa diblowup, dampaknya anak anak terkspose dengan berita tersebut danmereka menyerap saja apa yang dilontarkan orang tua mereka. come on, mari kita semua waras. yours is yours, mine is mine. why make a big fuzz on it.

pertikaian semacam itu hanya akan membuat energi habis tanpa ada waktu untuk membangun Indonesia. bukankah kita sering mengeluhkan pendidikan Indonesia yang kurang oke, kualitas SDM yang kurang oke, daya saing yang harus ditingkatkan, infrastruktur yang perlu dibenahi dan dibangun mulai dari 0, peningkatan kualitas kebijakan, mengurangi disparitas Indonesia bagian barat, tengah, timur. keluhan yang sedemikian besar adalah PR senyatanya untuk kita, Warga negara Indonesia. let's show how the young generations eager to build Indonesia in the way we can do.

mari kita jadikan kerukunan antar umat beragama menjadi lebih erat, menjadi Indonesia yang sesungguhnya, Indonesia yang berlandaskan Pancasila.


Sunday, April 3, 2016

mensterilkan kucing betina

beberapa waktu lalu, kucing telah mencapai 17. lumayan banyak untuk baiay perawatan, akhirnya steril menjadi langkah yang saya tempuh. kucing betina akhirnya disteril. saya pernah mengikuti steril masal--tapi sayangnya, saya mengalami kesulitan dalam merawat pasca steril. well, memang kalau kita tlaten, hal tersebut bukanlah masalah besar. namun, hal tersebut tidak dapat kita generalisir apakah steril massal akan berimbas sama atau tidak. pada steril massal, saya mendaftarkan dua kucing. sayangnya, kedua-duanya harus mengalami beberapa hal yang tidak mengenakkan karena jahitannya lepas. jahitannya tidak seperti jahitan ada umumnya, tetapi terjulur langsung dan akhrnya, saya merasa bersalah sampai sekarang. walaupun mereka sehat saat ini.

kembali lagi pada masalah steril kucing betina. akhirnya, kucingnya daftar ke dokter hewan. dua kucing yang satu selalu memiliki anak sehat, yang satu selalu mati anaknya, kecuali anak terakhir yang lahir baru saja. keduanya telah hampir menyapih anak-anaknya, 5 bulan dan 6 bulan....payah memang anak-anaknya, susah untuk tidak bergenti menyusu ibunya. setelah disapih, kucing tidak diberi makan dan minum--kasian. jam delapan malam sudah mulai puasa. pagi pukul 9 keesokan harinya sudah ready untuk dioperasi. tetapi ternyata satu kucing membutuhkan dua jam, sehingga 4 jam waktu yang diperluakan (pada saat steril bareng, satu kucing sekitar 1 jam). anak-anak itu diambil magrib sore--ernyata emang lumayan mahal..untuk perkucing setidaknya siapkan antara 250-500  ribu (tergantung pada berat-badan kucing dan klinik hewannya). total perkucing kemarin 420 (lumayan menguras kantong--kawan-kaawan yang juga berniat untuk mensterilkan, cek juga atau telfun langsung kliniknya untuk memastikan. bisa lebih murah atau mahal). untuk makanan, kata dokternya tidka masalah dikasih makanan biasa, tidak perlu ada perawatan ekstra untuk pakan. mengenai masalah kentut ternyata kawan-kawan tidak perlu khawatir dokter mengatakan bahwa steril beda dengan oeprasi pencernaan, jadi kucing bisa makan apa saja setelah operasi. menarik untuk megamati progress kedua kucing tersebut. salah satu kucing, pada keadaan belum 100% sadar sudah dapat makan dengan lahap, yang satunya malah muntah--katanya efek bius. sehari setelahnya, saya benar-benar tercengang, karena perawatan ekstra pasca operasi tidak sesukar pada waktu operasi massal. jahitannya dibuat melintang dan bagus. sehingga memperkecil risiko jahitan lepas. semuanya oke, komplain sedikit. yang satu masih malas makan. akhirnya mencari wetfood baru mau...lalu hari ketiga sudah oke. well, overall jika kita berniat mensterilkan kucing, ada baiknya menyediakan antiseptik semacam betadine, kasa, dan beberapa alat yang membatu kita untuk lebih mudha dalam mengobati luka jahitan. semoga bermanfaat untuk teman-teman yang ingin mensterilkan kucing...

Kenapa Luka Kucing Tidak Sembuh-Sembuh?

 Beberapa pemilik kucing mungkin pernah mengalami hal ini: luka kucing terlihat kecil, sudah dibersihkan, bahkan sempat mengering, tetapi be...