Semua kucing yang tinggal di halaman belakang rumah saya sudah divaksin dan disteril. Jumlahnya sekitar empat puluh ekor, sebagian besar adalah kucing liar yang datang satu per satu, lalu menetap. Mereka hidup sebagai kucing outdoor, tetapi bukan kucing yang bebas ke mana-mana. Area belakang rumah dipagari, cukup luas untuk berlari, bermain, dan berjemur, dengan kandang permanen serta tempat tidur yang hangat. Mereka jarang keluar area, dan sebagian besar waktu dihabiskan untuk tidur berkelompok, makan, lalu bermain lagi.
Dengan kondisi seperti itu, banyak orang mengira urusan kesehatan menjadi lebih ringan karena vaksin dan sterilisasi sudah lengkap. Kenyataannya, justru ada dua masa dalam setahun yang selalu membuat saya lebih waspada. Dua masa itu adalah peralihan musim. Saat cuaca berubah, panas dan hujan datang tidak menentu, suhu malam turun, dan kelembapan meningkat. Di masa seperti ini, daya tahan tubuh kucing sering kali ikut goyah, meskipun secara medis mereka sudah terlindungi.
Pada periode inilah calicivirus dan panleukopenia tetap bisa berdampak. Bukan dalam bentuk yang parah seperti pada kucing yang belum divaksin, tetapi cukup untuk membuat kondisi mereka menurun. Nafsu makan bisa berkurang, beberapa kucing terlihat lebih pendiam, ada yang mulai pilek ringan, ada pula yang tidur lebih lama dari biasanya. Dengan jumlah kucing yang banyak, perubahan kecil seperti ini tidak bisa diabaikan.
Setiap kali memasuki masa rawan tersebut, rutinitas sehari-hari terasa sedikit berbeda. Saya lebih sering berkeliling, mengamati satu per satu. Kucing yang biasanya agresif saat makan tiba-tiba memilih menjauh, atau kucing yang aktif mendadak lebih sering meringkuk. Bukan panik, tapi ada rasa deg-degan yang selalu muncul, karena pengalaman mengajarkan bahwa penurunan kondisi sering datang pelan-pelan.
Lingkungan menjadi hal yang sangat dijaga. Tempat tidur dipastikan tetap kering dan hangat, makanan dijaga kualitasnya, dan suasana dibuat senyaman mungkin agar tidak menambah stres. Saya belajar bahwa vaksin memang penting, tetapi lingkungan dan konsistensi perawatan punya peran yang tidak kalah besar, terutama pada kucing outdoor yang hidup berkelompok.
Hidup bersama empat puluh kucing membuat saya memahami satu hal sederhana: kesehatan kucing bukan hanya soal tindakan medis, tetapi juga tentang kesiapan menghadapi masa-masa sulit yang datang setiap tahun. Dua kali setahun, selalu ada fase di mana perhatian harus lebih penuh, langkah harus lebih tenang, dan pengamatan harus lebih detail. Bukan untuk menakuti, tetapi untuk menjaga agar semuanya tetap berjalan seperti biasa, hangat, aman, dan stabil.

No comments:
Post a Comment